Fisika merupakan salah satu bagian dari ilmu pengetahuan yang membahas tentang kejadian alam sekitar, yang sangat berperan penting dalam pengembangan teknologi modern. Belajar fisika adalah proses yang aktif sehingga lebih sering dilakukan kegiatan pengamatan dan penelitian dalam pembelajarannya.  Guru memberi keluasan kepada siswa untuk menggali pengetahuan, keterampilan berpikir, serta keterampilan proses sains dalam proses pembelajaran (Yulianti, et al., 2015).Tingkat kemajuan suatu bangsa atau negara dapat diukur melalui kualitas sumber daya manusianya. Pemerintah berupaya agar masyarakat mendapatkan pendidikan secara layak dengan tujuan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas yaitu dengan dikembangkannya Kurikulum 2013, yang mana kurikulum 2013 adalah pengembangan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum 2013 mempunyai 3 ciri khas yaitu dalam pembelajaran diterapkannya pendekatan scientific, kompetensi lulusan, serta penilaian otentik. Pada kurikulum 2013 membuat pembelajaran dapat berpusat pada siswa sehingga guru sebagai fasilitator dengan bertujuan dapat meningkatkan keterampilan yang perlu dimiliki siswa. Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang standar proses menyatakan bahwa dalam memperkuat pendekatan scientific, diperlukan suatu pembelajaran yang berbasis penemuan/penyelidikan (discovery/inquiry learning) yang digunakan pada kegiatan proses pembelajaran.Berdasarkan pra-penelitian di SMAN 16 Surabaya pada hari Senin, 23 Oktober 2017 diperoleh bahwa, berdasarkan hasil angket yang diberikan pada siswa yaitu rata-rata siswa berpendapat pernah melaksanakan kegiatan eksperimen sebanyak 1-2 kali, namun beberapa siswa mengalami kesulitan pada aspek keterampilan proses sains yang diujikan yaitu pada aspek menentukan hipotesis sebesar 73,91% siswa, aspek menentukan variabel sebesar 60,87% siswa, aspek merumuskan masalah sebesar 39,10% siswa, aspek menerapkan konsep sebesar 21,74% siswa, aspek menginterpretasi sebesar 43,48% siswa, dan aspek menyimpulkan sebesar 17,39% siswa. Hal tersebut dikarenakan, sesuai informasi yang diperoleh melalui wawancara pada salah satu guru fisika SMAN 16 Surabaya menyatakan bahwa dalam pembelajaran beliau jarang melengkapi dengan kegiatan laboratorium karena keterbatasan alat dan bahan yang tersedia di laboratorium. Oleh karena itu, berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan proses sains siswa belum mendapatkan hasil yang memuaskan,  sehingga perlu adanya suatu model pembelajaran supaya siswa dapat melatihkan keterampilan proses sains dengan baik dan mendapatkan hasil yang memuaskan.Model pembelajaran yang dapat melatihkan keterampilan proses sains salah satunya yaitu model pembelajaran inkuiri. Model pembelajaran inkuiri merupakan suatu model pembelajaran yang memberikan kebebasan pada siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri, meningkatkan keingintahuan siswa, dan membuat siswa termotivasi untuk belajar dengan guru sebagai fasilitator melalui  kegiatan penyelidikan (Kustijono, 2012). Salah satu model pembelajaran inkuiri yaitu inkuiri terstruktur. Inkuiri terstruktur merupakan salah satu model pembelajaran dimana guru memberikan suatu permasalahan beserta prosedurnya kepada siswa untuk dilakukan penyelidikan (Banchi & Bell, 2008). Siswa tidak diberitahu mengenai hasil yang akan diperoleh. Siswa menentukan sendiri variabel yang digunakan dalam penyelidikan hingga penyimpulan berdasarkan data yang diperoleh. Model pembelajaran inkuiri terstruktur menyeimbangkan 3 kompetensi yaitu kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan, sehingga pembelajaran lebih bermakna, dengan  melibatkan siswa secara aktif dan kreatif dalam penyelidikan melalui kegiatan eksperimen. Keterampilan proses merupakan sesuatu yang mendasar untuk memperoleh ilmu pengetahuan, namun harus dimiliki oleh siswa (Jack, 2013). Keterampilan proses yang dimiliki oleh siswa masih perlu dilatih melalui kegiatan eksperimen.  Keterampilan proses terdapat 2 bagian yaitu keterampilan proses dasar yang digunakan dalam ilmu pengetahuan dan non-ilmu pengetahuan dan terintegrasi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh ilmuwan dan teknologi. Berdasarkan keterampilan proses dasar dan terintegrasi, diperoleh keterampilan proses sains yang dapat diartikan sebagai dasar dari pemikiran ilmiah dan penelitian (Mutlu & Temiz, 2013).   Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Handriani, et al., (2015) di SMAN 1 Gerung menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri terstruktur lebih memberikan pengaruh positif daripada diterapkannya model pembelajaran langsung dalam proses pembelajaran. Penelitian yang dilakukan oleh Hodosyová, et al., (2015) menunjukkan keterampilan proses sains yang tertinggi yaitu penguasaan konsep sebesar 92% dan yang terendah yaitu merencanakan eksperimen sebesar 33%.  Penelitian yang dilakukan oleh Hasanah, et al., (2016) di SMAN Arjasa Kabupaten Jember menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri menghasilkan pengaruh positif dari siswa ditinjau dari keterampilan proses sains. Semua aspek keterampilan proses sains yang diterapkan tergolong kriteria baik yaitu meliputi menentukan hipotesis, melakukan percobaan, melakukan pengamatan, mencatat hasil pengamatan, membuat grafik, menganalisis data, menyimpulkan, dan mengkomunikasi.Salah satu materi Fisika SMA yang dapat menunjang siswa untuk melatih keterampilan proses sains melalui kegiatan laboratorium yaitu materi Hukum Newton tentang gerak. Pada materi Hukum Newton tentang gerak tersebut menuntut siswa untuk melakukan kegiatan laboratorium dengan menerapkan metode ilmiah.  Keterampilan proses sains dapat dilatihkan kepada siswa dengan diterapkannya suatu model pembelajaran yang membantu siswa untuk aktif dalam kegiatan eksperimen, salah satunya yaitu dengan diterapkannya model pembelajaran inkuiri terstruktur.Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti akan melakukan penelitian dengan menerapan model pembelajaran inkuiri terstruktur untuk melatihkan keterampilan proses sains kelas X pada materi Hukum Newton tentang gerak.

Author