Penulisan buku
“Mengusir Matahari: Fabel-Fabel Politik” berada dalam konteks kehidupan politik
pada masa pemerintahan Soeharto. Kuntowijoyo lugas menulis, “Tema umum dari
buku ini ialah ‘Mengusir Matahari’, artinya menumbangkan kekuasaan Orde Baru
yang sudah ‘membakar hutan’ selama 32 tahun.” Sindiran terhadap kondisi politik pada masa itu sangat
mewarnai cerita. Meskipun demikian, kumpulan fabel Kuntowijoyo akan selalu
relevan dengan zaman. Sebab, selama praktik-praktik politik berlangsung, selama
itu pula “penyakit-penyakit” politik berpotensi, atau malah akan selalu muncul.

Kuntowijoyo selain
terkenal sebagai seorang sejarawan, ia juga terkenal sebagai cerpenis serta
esais keagamaan dan politik. Lulusan doktoral Universitas Columbia tersebut,
selama hidupnya (meninggal 2005 –usia 61), sangat produktif dalam
menulis. Di bidang sastra ia menulis; Pasar (1972), Khotbah di Atas Bukit (1976), Dilarang Mencintai
Bunga-bunga (1992), Pistol Perdamaian,
Laki-laki yang Kawin dengan Peri (1995), Topeng Kayu (2001), Kereta Api yang Berangkat
Pagi Hari (1996), Impian Amerika (1998), Daun Makrifat, Makrifat
Daun (1995), Rumput-rumput Danau Bento (1968), Isyarat (1976), dan puluhan karya lainnya.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Di bidang
sejarah, agama, budaya, dan politik; Muslim Tanpa Masjid (2001), Radikalisasi Petani (1994), Dinamika Sejarah Umat Islam
Indonesia (1985), Perubahan Sosial Dalam
Masyarakat Agraris Madura 1850-1940 (2002), Politik dalam Bingkai
Struktualisme Transendental (2001), Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas (2002), Identitas Politik Umat
Islam (1997), Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi (1991), Demokrasi dan Budaya
Birokrasi (1994), dan sebagainya.

Produktivitas
tersebut membuat penerima Asean Award on Culture itu memiliki banyak julukan,
mulai dari guru besar, sejarawan, budayawan, sastrawan, aktivis,
penulis-kolumnis, intelektual muslim, sampai khatib. Dari keparipurnaan
pemikiran dan karya Kuntowijoyo, Mengusir
Matahari Fabel-fabel Politik seakan menjadi
“alun-alun” kemampuannya: menulis cerita, membaca zaman, memkitang pentas riuh
politik, dan menyampaikan pesan kemanusiaan.

Telah hampir
dua dekade berlalu tetapi isi buku tersebut masih relevan sehingga saat kita
membacanya sekarang. Buku ini yang ditulis semasa pentadbiran Presiden BJ
Habibie merupakan reaksi terhadap gelombang reformasi di Indonesia dalam
menumbangkan kekuasaan Orde Baru Soeharto. Malah gelombang reformasi di
Indonesia sedikit sebanyak mempengaruhi reformasi politik di Malaysia.

Kisah-kisah
yang diceritakan adalah manifestasi dari realita yang sedang berlaku dan
telahpun berlaku setiap hari. Seolah-olah kita dibawa berada di zaman Raja
Sulaiman modern. Persoalan demokrasi, pencerahan politik, salah guna kuasa,
kekayaan yang terhimpun, kedayusan sistem, kemelaratan rakyat dan kesombongan
pemimpin yang sehingga saat ini masih berlaku di depan mata kita seperti yang
telah digambarkan dalam ‘Sajak-sajak Seekor Kucing’.

Kumpulan kisah-kisah
ini dirangkulkan bersama dan diberi nama Mengusir Matahari oleh penulisnya Kuntowijoyo. Sebuah
koleksi fabel-fabel politik terbitan Pustaka Hidayah tahun 1999 (edisi tahun
2010 terbitan Penerbit Tiara Wacana). Ia adalah cerminan alam manusia ke alam binatang.
Malah makhluk jin juga sesekali diajak berlakon di pentas ini. Buku ini bukan
cuma untuk memanusiakan binatang ataupun sebaliknya tetapi saling bertemu di
persimpangan jalan kemudian bertelingkah. Manusia telah masuk ke alam binatang
dan binatang telah masuk ke alam manusia. Masing-masing berkonfrontasi antara
satu sama lain, bersaing, untuk menang, jadi kaya.dan berkuasa.

Buku ini
antara lain memaparkan kisah sedih masyarakat kambing. Kisahnya lebih kurang
begini; Semakin negeri-negeri kambing menghadapi masalah pentadbiran, kesihatan
dan serangan dari negeri serigala, mereka bersetuju melantik gajah sebagai raja
untuk memerintah. Pemerintahan raja gajah tidak seperti yang diharapkan.
Semakin lama, semakin negeri kambing ini jadi kacau balau. Masyarakat kambing
tak mampu untuk melawan rajanya si gajah. Mereka jadi buntu, berputus asa
kemudian berpindah ke negeri lain.­ Negeri kambing jadi kosong dan
rajanya sang gajah memerintah sehingga ke penghujung usia.

Mengusir
Matahari penuh dengan humor. Padat dengan pesan-pesan tersirat maupun tersurat.
Kesemua 89 karya yang ditulis oleh Kuntowijoyo dihidangkan kepada pembaca
dengan baik dan penuh sinikal. Penulisannya tidak ke kiri maupun ke kanan.
Tetapi antara keduanya saling berlomba. Masing-masing adalah benar. Mungkin.
Buku ini sarat dengan saranan-saranan ‘moral’ baik untuk pemimpin maupun untuk
yang dipimpin. Kebanyakan kisah yang diceritakan merupakan kisah benar yang
berlaku semasa dan pasca reformasi di Indonesia. Sejarah ini diberi ruang baru
agar lebih menghibur dan sesuai untuk tontonan umum.

Dalam kisah
‘Demokrasi Gajah, Demokrasi Kuda dan Demokrasi Anjing’ kita dihidangkan dengan
sebuah kisah seorang ayah yang mengajar anaknya mengenai demokrasi. “Ayah…apa arti
demokrasi?”. Lalu jawab ayahnya “itu tontonan untuk 17 tahun ke atas tahu!”.
Mereka ke sarkas dan melihat gajah membuat pertunjukan dengan dipalu seorang
pelatih. Kata bapak kepada anak, inilah demokrasi gajah. Kemudian selepas itu
si ayah membawa anaknya ke markas Polisi berkuda. Kuda itu dikendalikan dengan sangat
baik. Polisi itu mengatakan bahwa kuda adalah seperti manusia, kalau baik
kepadanya, dia akan baik kepada kita. Ayah berkata inilah demokrasi kuda. Hari
berikutnya si ayah membawa anaknya keluar bersiar-siar dan bertemu dengan
seorang tua pemilik anjing yang sedang bersiar-siar. “Anjing itu milikmu..?” Si
ayah menegur orang tua tersebut. Orang tua itu berkata bahwa secara resminya
memang miliknya tetapi hakikatnya, dia yang dimiliki oleh anjing peliharaannya.
Ini karena, kalau tak dibawa keluar bersiar-siar, mereka akan memberontak,
kencing di sofa dan membuat bising. Kata ayah; Anjing menjadi bos.
Sewenang-wenang mau menang sendiri. “Fasis! Diktator! Komunis!” kata anak.
Dalam humor sinikal ini kita dibawa jauh untuk berfikir mengenai memiliki
demokrasi atau demokrasi untuk pilihan.

Himpunan
kisah-kisah ini berkisar langsung dengan zaman pemerintahan Soeharto dan
kebangkitan mahasiswa Indonesia serta rakyat yang membawa obor reformasi. Dari
sekecil-kecil isu ke sebesar-besar perkara. Ia meliputi ruang dan menjangkau
zaman. Keutamaan diberi kepada sistem dan pengatur sistem. Terlalu banyak
kisah-kisah ‘dongeng’ dalam Mengusir Matahari yang boleh dijadikan tolak ukur kepada isu
setempat dan pemahaman masyarakat terhadap sesuatu pembaharuan.

Catatan ‘Manusia versus Buaya’ akan membawa kita untuk menjunjung hak
buaya. Dalam kata lain, buaya juga berhak memakan kambing ternakan manusia
sebab manusia telah mencabut hak-hak buaya yang mengganggu habitat mereka. Di
sini, menghormati hak juga disebut ‘demokrasi’. Maka orang kampung dan pawang berkumpul
setelah semakin banyak ternakan kambing dimakan. Pawang telah membuat
perjanjian dengan pihak buaya tetapi malangnya perjanjian telah dilanggar oleh
pihak buaya itu sendiri lalu orang kampung bermusyawarah, tetapi pihak berkuasa
tidak membenarkannya. “Ini urusan polisi” lalu orang kampung mengajukan hal ini
kepada pihak polisi. Pihak polisi berkata, ini urusan tentera. Maka yang
berlaku saling melemparkan tanggungjawab kepada orang lain. Buaya ini urusan
polisi atau tentara atau urusan demokrasi? Di mana kita?

Author